Kamis, 16 Juni 2016

Bangun NTT, Kemendes Kerjasama dengan FAO dan ILO



Bangun NTT, Kemendes Kerjasama dengan FAO dan ILO

Selamat pagi warga desa,
Upaya Kemendesa dalam percepatan peembangunan, tidak mungkin kemendesa akan bekerja sendiri tanpa adanya kerjasama dari pihak lain. kali ini menteri desa Marwan Jafar kedatangan tamu dari FAO dan ILO. yang Hal ini sebagai bagian dari realisasi kerjasama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) dengan FAO dan ILO untuk mempercepat pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kerjasama Kementerian Desa dengan FAO dan ILO telah disahkan melalui penandatanganan Project Document Decent Work for Food Security and Sustainable Rural Development (DWFSSRD): Support to Selected Coastal Communities along the Seaweed Value Chain di Kantor Perwakilan FAO Indonesiadi Gedung MH Thamrin, Jakarta Pusat, 29 Mei 2015.

Kami langsung tindaklanjuti kerjasama DWFSSRD itu dengan membangun sumur bor dan embung di Kabupaten Sumba Timur dan TTS senilai Rp2,5 miliar tahun 2016, ujar Menteri Desa Marwan Jafar di Jakarta, Kamis (28/4/2016).

Penjelasan ini disampaikan Menteri Marwan saat menerima kunjungan Mark Smulders selaku perwakilan FAO dan Franscaesco dOvidio sebagai ILO Country Office for Indonesia and Timor Leste.

Dalam pertemuan itu dijelaskan bahwa masalah kekeringan, kesulitan air bersih, irigasi, dermaga, serta sarana wirausaha di NTT sedikit demi sedikit mulai teratasi.

Sebab di pihak FAO dan ILO, mereka telah mendukung penyedian infrastruktur pada empat kabupaten di NTT dengan nilai investasi USD 7,7 Juta untuk pembangunan embung, pengadaan PLTS, pembangunan sumur bor tenaga surya untuk irigasi pertanian, pembanunan dermaga, sarana pendidikan, peningkatan kapasitas wirausaha, dan lainnya.

Marwan menegaskan, implementasi poin-poin kerjasama dengan FAO dan ILO memang belum maksimal karena keterbatasan dana. Karena itu, program akan difokuskan pada satu daerah sebagai pilot project demi mengoptimalkan intervensi kerjasama kedua belah pihak.Selanjutnya, Marwan mengaku pihaknya tengah melakukan pembicaraan dengan Islamic Development Bank (IDB) sebagai donor untuk membiayai program kerjasama tersebut.

Kiranya FAO dan ILO tetap berkomitmen untuk melanjutkan implementasi proyek ini, meski dana belum maksimal. Kita perlu konsistensi dan konsentrasi penuh dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pengurangan kemiskinan secara berkelanjutan pada masyarakat pedesaan yang paling rentan dan kurang beruntung, yang salah satunya berada di provinsi NTT, beber Marwan.

Mark Smulder menyambut positif paparan yang disampaikan oleh Menteri Marwan. Dari hasil pertemuan tersebut, Mark mengaku akan mempelajari beberapa hal yang memungkinkan untuk mendapatkan bantuan dari FAO. Menurut pihaknya, infrastruktur di Indonesia terutama di kawasan timur yang belum memadai menjadi perhatian serius hingga saat ini.

Yang masih menjadi tantangan dan kendala hingga saat ini adalah infrastruktur yang kurang memadai. Ini harus menjadi perhatian, kata Mark.

Adapun Franscaesco memberikan tanggapan terkait focus intervensi pada satu pilot project yang digagas oleh Menteri Marwan Jafar. Hal itu menurut Frans dapat mewujudkan langkah yang lebih kongkrit untuk mengentaskan kemiskinan dan daerah-daerah yang membutuhkan bantuan.

Ide membuat satu pilot project dalam rangka membentuk desa maju sangat bagus untuk diterapkan. Ini bisa langkah konkrit sekaligus focus pemerintah pada daerah yang ada dalam kemiskinan serta membutuhkan bantuan, ujar Franscaesco.

Kerjasama Kementerian Desa dan FAO dan ILO dalam bentuk Decent Work to Food Security and Sustainable Rural Development (DWFSSRD) hingga saat ini telah melakukan beberapa hal di NTT, diantaranya pelatihan kewirausahaan bagi 600 petani di Kabupaten Kupang, peningkatan akses pasar bagi para petani, pembangunan serta bimbingan pembibitan rumput laut di Sumba Timur.

Kerjasama ini selanjutnya diharapkan dapat merambah ke aspek yang lebih luas, seperti pendistribusian dan pemanfaatan dana desa yang efektif dan efisien di tingkat masyarakat desa.
Read more »

Pentingnya Inovasi Teknologi Dalam Kemandirian Desa


Pentingnya Inovasi Teknologi Dalam Kemandirian Desa

Selamat siang warga desa. pagi tadi Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mengadakan Forum Komunikasi Inovator dan Pengelola Posyantek Teknologi Tepat Guna Tahun 2016 acara ini di buka oleh Dirjen PPMD Erani Yustika di Gedung Makarti Muktitama, Jakarta (11/5).

Secara umum, dapat dikatakan bahwa teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Dari tujuan yang dikehendaki, teknologi tepat guna haruslah menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif seminimal mungkin dibandingkan dengan teknologi arus utama, yang pada umumnya beremisi banyak limbah dan mencemari lingkungan. teknologi tepat guna pada masa modern juga menekankan bahwa teknologi tepat guna adalah teknologi yang berbasiskan pada manusia penggunanya.untuk menyelesaikan beberapa persoalan yang ada di Indonesia. Jika dikembangkan dengan baik, TTG bisa meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Ahmad Erani Yustika dalam Forum Komunikasi Inovator dan Pengelolan Posyantek Teknologi Tepat Guna di Gedung Makarti, Kalibata, Rabu (11/5).

Menurut Erani, Indonesia masih harus memperbaiki kualitas inovasi teknologi tepat guna yang dimiliki. Mengacu pada data Global Inovation Indeks, peringkat Indonesia masih berada di posisi 85 dari 135 negara yang di survei. Namun demikian, Indonesia Imbuh Erani termasuk negara yang mengalami percepatan inovasi dalam hal teknologi tepat guna.

“Pada 2013, Indonesia termasuk negara yang mengalami percepatan tertinggi di Indonesia, posisi percepatan inovasi teknologi tepat guna Indonesia sudah berada di posisi 31 dari 141, sedangkan posisi teknologinya masih berada di posisi 77 dari 144 negara yang di survei,” tandasnya.

Berpedoman pada Global Inovation Indeks, Erani melihat ada harapan besar bahwa inovasi di Indonesia sangat melimpah. “Nanti inovasi tepat guna bisa menjadi Bahasa baru kedepan, yang menentukan produktifitas ekonomi kedepan bukan lagi terletak pada SDM dan Modal social, akan tetapi juga lebih dari sisi inovasi dan teknologi tepat guna,” imbuhnya.

Ada dua persoalan pokok dalam proses pengembangan inovasi teknologi tepat guna di Indonesia, yang menurut Erani harus segera diselesaikan. Pertama, teknologi di Indonesia belum menjadi isu utama. Hal tersebut bisa dilihat dari anggaran untuk kepentingan reseach dan development yang masih rendah.

“Sampai hari ini harus diakui dengan jujur, belum mengarusutamakan teknologi, kita masih menyusun persoalan yang mengarah kepada isu kebutuhan pokok, dari APBN masih kurang dari 2%, dari sisi ini, anggaran dan insentif belum didapatkan,” tandasnya.

Persoalan kedua, lanjut Erani, terletak pada lingkungan bisnis di Indonesia. Penemuan teknologi di negara lain mendapat sokongan kuat pihak swasta, yakni dunia bisnis. Di Indonesia reseach dan inovasi lebih banyak disokong oleh pemerintah, lingkungan bisnis seperti ini perlu dirubah. Hampir semua pelaku inovasi di Indonesia masih takut untuk ditiru.

Erani menegaskan, masyarakat desa harus menjadikan inovasi teknologi menjadi mainset untuk menopang kepentingan social. “Desa kita ingin menerjemahkan inovasi teknologi menjadi mainset, kita sudah terlalu lama tidak menyentuh inovasi teknologi. Kelompok innovator ini sebenarnya adalah kelompok paling elit di bangsa ini,” tutupnya.
Read more »

Kemendesa Bangun Pasar Kawasan Perdesaan di 45 Kabupaten


Kemendesa Bangun Pasar Kawasan Perdesaan di 45 Kabupaten

selamat pagi warga desa.
Pasar desa adalah pasar yang dikelola oleh Pemerintah Desa. Pasar desa (tradisional) merupakan sebuah aset ekonomi dan budaya di tingkat desa, tetapi seiring perkembangan pasar modern yang begitu pesat lambat laun mengancam keberadaan pasar tradisional. Pasar memiliki kontribusi yang besar bagi kehidupan masyarakat pedesaan, tidak hanya di bidang ekonomi tapi juga di bidang sosial dan budaya. Pasar desa pada masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai pintu gerbang yang menghubungkan masyarakat tersebut dengan dunia luar. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mempunyai peranan dalam perubahan-perubahan kebudayaan yang berlangsung dalam suatu masyarakat.

Keberadaan pasar kawasan sebagai pusat lalu lintas barang dan uang sangat penting dalam mendorong penguatan ekonomi desa. Karena itu, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) membangun pasar kawasan perdesaan di 45 kabupaten.

Menteri Desa Marwan Jafar mengatakan, pasar kawasan perdesaan akan menjadi pusat kegiatan ekonomi, transaksi jual beli produk antar desa dalam satu kawasan. Pasar kawasan ini akan dikelola oleh BUMDesBersama antar desa dalam sebuah kawasan.

“Desa sebagai satu entitas jika tidak ada koneksi, tidak akan berkembang optimal. Inilah mengapa pasar kawasan perdesaan menjadi sangat strategis,” ungkapnya,
Read more »

Tak Ingin Santri Pindah Pondok, Marwan Ajak Kiai Perangi Narkoba


 Tak Ingin Santri Pindah Pondok, Marwan Ajak Kiai Perangi Narkoba

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Jafar, mengajak para kiai dan santri untuk ikut serta memerangi narkoba. Pasalnya, hingga saat ini pengguna narkoba terus mengalami peningkatan, lebih dari enam juta orang teridentifikasi sebagai pengguna narkoba.
"Angka ini cukup fantastis, mengingat penduduk negara kita mayoritas beragama Islam. Dalam hukum Islam, penggunaan narkoba yang sudah jelas mengandung zat adiktif adalah haram hukumnya," terang Menteri Marwan dalam keterangan pers, Sabtu 14 Mei 2016 malam.

Oleh karena itu, fenomena tersebut haruslah menjadi perhatian serius kalangan pesantren dan jajaran kiai, termasuk para pengurus NU di seluruh Indonesia. "Harus menjadi perhatian kita bersama, agar masa depan negera kita ini tak lagi terancam dengan keberadaan narkoba yang selalu menganjam generasi bangsa," pinta Marwan.

Apalagi, lanjut Marwan, narkoba juga pernah disinyalir telah memasuki dunia pesantren. Hal ini tentu sangat memukul hati semua kiai dan masyayikh. Pesantren yang selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang menekankan nilai-nilai keislaman tercoreng dengan kasus penggunaan narkoba oleh pengasuh dan para santri di salah satu Pondok Pesantren di Jawa Timur beberapa waktu lalu itu.

"Peredaran narkoba katanya sudah masuk ke pesantren-pesantren. Kepala BNN cerita bahwa narkoba sudah masuk ke pesantren. Para santri juga ikut mencegah peredaran narkoba di pesantren. Ini tentu pukulan telak bagi kita semua," sesalnya.

Seperti diketahui, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso, mengungkapkan, salah satu pesantren di Jawa Timur menggunakan narkoba sebagai obat kuat untuk berdzikir. Menurutnya, berdasarkan pengakuan para santri di pondosok pesantren tersebut, mereka menggunakan narkoba karena tidak mengetahui bahwa obat-obatan yang dikonsumsi itu adalah narkoba.

"Kita perlu memberikan pemahaman kepada para santri tidak hanya soal bahaya penggunaan narkoba. Tetapi, juga perlu dijelaskan berbagai jenis obat yang mengandung zat adiktif, agar kasus seperti yang jadi di Jatim itu tak terluang lagi di pondok pesantren lainnya," ajak Marwan.

Ia menjelaskan, hingga saat ini hampir semua Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Indonesia dipenuhi oleh bandar, kurir dan Pengguna narkoba. "Jangan sampai para santri kita pindah 'mondok' dari pesantren ke lapas karena kurangnya pengawasan dari para kiai," seloroh Marwan, sambil melepas senyum.
Read more »

Kemendesa Jadikan PWI Mitra Transmigrasi

Kemendesa Jadikan PWI Mitra Transmigrasi

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengajak Persatuan Wredatama Transmigrasi (PWT) untuk menjadi mitra transmigrasi. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT, Anwar Sanusi saat menghadiri Hut PWT ke 30 di Jakarta, Selasa (17/5).



Anwar Sanusi mengatakan, Kemendes PDTT sebagai pewaris urusan transmigrasi meyakini bahwa pensiunan pegawai transmigrasi memiliki kearifan dan pengalaman tinggi, yang akan sangat bermanfaat bagi perjalanan program transmigrasi saat ini. Untuk itu, ia sangat membuka lebar kepada PWT, untuk memberikan masukan dan berbagi pengalaman terkait transmigrasi.

“Tentunya pengalaman tersebut akan dikumpulkan dan disesuaikan dengan konteks saat ini. Apabila ada beberapa hal yang ingin disumbangkan, kami akan sangat terbuka,” katanya.

Dikatakan Anwar Sanusi, transmigrasi adalah program penting yang harus tetap berjalan dan dikembangkan. Menurutnya, transmigrasi adalah pelopor dari berbagai program lain seperti ketenagakerjaan, pembangunan dan pengembangan desa serta pembangunan dan pengembangan daerah tertinggal.

“Itulah mengapa di Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Transmigrasi diletakkan di paling akhir. Karena desa dan daerah tertinggal mengikuti transmigrasi,” ujarnya.

Di sisi lain, Joko Sigit Purnomo, Ketua PWT mengatakan, selain untuk memfasilitasi keterikatan antar pensiunan pegawai transmigrasi, tujuan berdirinya PWT juga untuk menjalin komunikasi dengan petugas transmigrasi yang masih dalam kategori aktif. Harapannya, komunikasi tersebut dapat mempertahankan dan meningkatkan keberhasilan program transmigrasi.

“Ada hal pokok yang wajib dimiliki oleh PWT, Pertama, pensiunan harus rukun dan saling tolong menolong. Kedua, harus menjalin hubungan dengan teman-teman yang masih aktif,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Desa PDTT, Marwan Jafar mengatakan, pelaksanaan program transmigrasi saat ini difokuskan pada wilayah perbatasan. Selain dapat mengangkat keterisolasian daerah terpencil, hal tersebut juga bertujuan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Daerah perbatasan memiliki potensi alam yang tinggi, tinggal bagaimana kita mengolah dan mengembangkannya. Maka, transmigrasi di perbatasan tidak sepatutnya dianggap sebagai tantangan yang sulit, karena ini sebenarnya adalah peluang besar,” ujarnya.

Menteri Marwan mengatakan, program transmigrasi telah berhasil mengangkat keterisoliran daerah-daerah terpencil. Program transmigrasi menurutnya, telah berhasil membentuk 104 Ibukota Kabupaten pemekaran, dan membentu 3.003 desa baru.


Read more »